Satu-satunya Kota Yang Atas Namanya Allah SWT Bersumpah

Satu-satunya Kota Yang Atas Namanya Allah SWT Bersumpah

At Tiin 1 – 3

    1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun

      وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

    2. Dan demi Bukit Sinai

      وَطُورِ سِينِينَ

    3. Dan demi kota (Mekkah) ini yang aman

      وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

Ayat Pertama: Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun

Terdapat berbagai tafsiran. Menurut Mujahid dan Hasan, kedua buah-buahan itu diambil jadi sumpah oleh Allah SWT untuk diperhatikan. Buah TIN diambil sumpah karena dia buah yang terkenal untuk dimakan, buah ZAITUN karena dia dapat ditempa dan diambil minyaknya. Kata Qatadah: “Tin adalah nama sebuah bukit di Damaskus dan Zaitun nama pula dari sebuah bukit di Baitul-Maqdis.” Tandanya kedua negeri itu penting untuk diperhatikan. Dan menurut sebuah riwayat pula, yang diterima dari Ibnu Abbas, “Tin adalah mesjid yang mula didirikan oleh Nuh di atas gunung Al-Judi, dan Zaitun adalah Baitul-Maqdis.

Banyak ahli tafsir cenderung menyatakan bahwa kepentingan kedua buah-buahan itu sendirilah yang menyebabkan keduanya diambil jadi sumpah. Buah Tin adalah buah yang lunak, lembut, kemat, hampir berdekatan rasanya dengan buah serikaya yang tumbuh di negeri kita dan banyak sekali tumbuh di Pulau Sumbawa. Zaitun masyhur karena minyaknya.

Tetapi terdapat lagi tafsir yang lain menyatakan bahwa buah Tin dan Zaitun itu banyak sekali tumbuh di Palestina. Di dekat Jerusalem pun ada sebuah bukit yang bernama Bukit Zaitun, karena di sana memang banyak tumbuh pohon zaitun itu. Menurut kepercayaan dari bukit itulah Nabi Isa Almasih mi’raj ke langit.

Ayat Kedua: Dan demi Bukit Sinai

Adapun tempat kedua yang dipakai bersumpah adalah bukit Sinai yang terletak di Mesir. Sebagian ulama menafsirannya sebagai bukit tempat Musa menerima wahyu . Menurut Ikrimah, sinîn dalam bahasa Habasyah (Etiophia) berarti baik .

Di ayat ini disebut namanya Thurisinina, disebut juga Thursina, disebut juga Sinai dan disebut juga Thur saja. Yang kita kenal sekarang dengan sebutan Semenanjung Sinai.

Ayat Ketiga: Dan demi kota (Mekkah) ini yang aman

Makkah disebut sebagai tempat yang aman karena dijaga Allah dari sentuhan Dajjal dan di dalamnya terdapat Baitullah. Di sana, Nabi Muhammad saw dilahirkan dan dibesarkan serta menerima wahyu-Nya yang pertama. Demikian sebagaimana dituturkan sebagian besar ahli tafsir dan ulama.

Penyebutan ketiga kelompok sumpah tersebut seolah mengindikasikan beberapa hal:

    1. Sumpah dengan Buah Tin dan Zaitun yang berarti mengisyaratkan tempat asal kedua buah tersebut mengingatkan seluruh umat Islam akan perjuangan Nabi Isa yang terlahir tanpa bapak karena titah Allah, sekaligus sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya. Ia tumbuh bersama didikan Allah melalui ibunya seorang diri.
    2. Bukit Sinai memberikan isyarat tempat Nabi Musa menerima wahyu. Nabi yang juga perjuangannya tak ringan. Sejak kecil harus berpisah dengan keluarganya. Kemudian dididik oleh rezim yang kejam dan bengis tapi ditakdirkan untuk menyampaikan risalah keadilan di depan sumber dan inisiator kezhaliman yang sekaligus sebagai ayah angkatnya. Sebuah dilema yang harus dihadapi. Bahkan kisahnya termasuk cerita yang seirng diulang di dalam al-Qur’an dan menjadi simbol perlawanan tokoh protagonis yang membela kebenaran, keadilan dan orang-orang tertindas melawan simbol dan ikon kezhaliman, Fir’aun dan sekutunya.
    3. Negeri yang aman (Makkah) mengisyaratkan sebuah kisah epik dan kepahlawanan seorang nabi yatim yang menjadi pamungkas nabi dan rasul Allah. Nabi Muhammad saw yang ditahbiskan sebagai makhluk terbaik dari yang pernah ada dan akan ada, dengan membawa risalah yang kekal sampai hari penentuan, Hari Kiamat. Risalah yang bersifat universal, diperuntukkan kepada seluruh manusia dan jin, lintas teritorial, generasi dan waktu.

Ibnu Katsir berkata: “Dan di dalam Taurat pun telah disebut tempat yang tiga ini: ‘Telah datang Allah dan Thursina,’ yaitu Allah telah bercakap-cakap dengan Musa. ‘Dan memancar Dia dari Seir’, yaitu sebuah di antara bukit-bukit di Baitul-Maqdis, yang di sana Isa Almasih dibangkitkan. ‘Dan menyatakan dirinya di Faran’. Yaitu nama bukit-bukit Makkah, tempat Muhammad SAW diutus. Maka disebutkan itu semua guna memberitakan adanya Rasul-rasul itu sebab itu diambil-Nya sumpah berurutan yang mulia, yang lebih mulia dan yang paling mulia.”

Maka datanglah komentar dari Ulama-ulama Besar Islam, yang didapat dalam keterangan Abu Muhammad Ibnu Qutaibah: “Dengan ini tidak tersembunyi lagi bagi barangsiapa yang sudi memperhatikan. Karena Tuhan datang dari Torsina itu ialah turunnya Taurat kepada Musa di Thursina; sebagaimana yang diperpegangi oleh ahlil-kitab dan oleh kita Kaum Muslimin. Demikian juga tentang terbitnya di Seir, ialah turunnya Injil kepada Almasih ‘alaihis-salam. Almasih berasal dari Seir, bumi Jalil di sebuah desa bernama Nashirah, dan dari nama desa itulah pengikut Almasih menamakan diri mereka Nasrani. Maka sebagaimana sudah pastinya bahwa Dia terbit di Seir mengisyaratkan kedatangan Almasih, maka dengan sendirinya gemerlapan cahayanya di bukit Paran itu ialah turunnya Al-Qur’an kepada Muhammad SAW di bukit-bukit Paran, yaitu bukit-bukit Makkah.”

Artikel Terkait:

Sumber: dakwatuna dan Tafsir