Keajaiban Makkah dan Madinah

Keajaiban Makkah dan Madinah

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi. Radiasi yang berada di sekitar ka’bah ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam. Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah. Makkah juga merupakan pusat bumi.

Makkah adalah Pusat dari lapisan-lapisan langit. Ada beberapa ayat dan hadits nabawi yang menyiratkan fakta ini. Allah berfirman, ‘Hai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.’ (ar-Rahman:33). Datang ke kota Makkah dan Madinah sebagai tamu Allah, maka Allah akan menghapus dosanya dan doanya akan dikabulkan ALLAH SWT (HR. Ibnu Majah).

Adapun keajaiban lainnya, yaitu:

    1. Shalat di Masjidil Haram Lebih Utama 100 Ribu Kali
    2. Tanah haram (Makkah dan Madinah) adalah tempat yang mulia. Di antara kemuliaannya adalah akan dilipatgandakan pahala shalat di masjid di tanah tersebut. Khusus untuk tanah haram di Makkah, kita ketahui bahwa pahala shalat di Masjidil Haram adalah 100.000 kali dari shalat di masjid lainnya.
      Dari Jabir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

      صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلاَةٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ

      “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.)

    3. Amal Baik dan Buruk Dilipatgandakan di Kota Mekah
    4. Mengenai maksiat, tidaklah dilipatgandakan dosanya secara jumlah baik di tanah haram atau selainnya. Dosa itu dilipatgandakan dilihat dari maksiat yang dilakukan (kaifiyah), berbeda-beda antara dosa, ada dosa yang amat berat, ada yang balasannya keras karena dilakukan di waktu dan tempat tertentu, seperti dilakukan di bulan Ramadhan, di tanah haram yang mulia, di Madinah Al Munawwaroh dan semacamnya. Karena Allah SWT berfirman:

      مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا

      “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya” (QS. Al An’am: 160).

      “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir, dan siapa yang bermaksud di dalammya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebagian siksa yang pedih” (QS. Al-Hajj [22]:25)

    5. Tempat yang Lebih Utama Dikunjungi
    6. “Janganlah suatu perjalanan (rihal) diadakan, kecuali ke salah satu dari tiga masjid berikut: Masjidil Haram, Masjidil Al-Alqsha, dan masjidku (Masjid Nabawi)” (HR Bukhari)

      Hadis Nabi diatas, menyatakan keutamaan dan nilai lebih ketiga masjid tersebut daripada masjid yang lain. Hal tersebut dikarenakan, ketiganya merupakan masjid para Nabi ‘alaihismus salam. Masjidil Haram merupakan kiblat kaum muslimin dan tujuan berhaji. Sedangkan Masjidil Aqsha adalah kiblat kaum terdahulu, adapun Masjid Nabawi merupakan masjid yang terbangun di atas pondasi ketakwaan (QS Al-Fath: 3/64).

      Oleh karena itu, kaum muslimin disyari’atkan untuk melakukan safar menuju ketiga tempat tersebut dan mereka dilarang untuk melakukan safar ke tempat lain dalam rangka melakukan peribadatan, meskipun tempat itu adalah masjid.

    7. Kota yang Atas Namanya Allah SWT Bersumpah
    8. Dalam surat ini, Allah bersumpah dengan beberapa hal.

      • Pertama: ”Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.” (Q.s. 95: 1)
      • Sebagian pakar tafsir ada yang mengartikan sumpah pertama ini dengan nama bukit yang ada di Baitul Maqdis, Palestina. Ini pendapat Ikrimah. Sementara Qatadah mengatakan bahwa Tin adalah bukit di Damaskus dan Zaitun adalah nama bukit di Baitul Maqdis. Namun, tidak sedikit yang menyebutkan bahwa yang dimaksud di sini adalah nama dua buah yang sudah dikenal oleh orang Arab juga manusia secara umum yaitu buah Tin yang sangat manis dan buah Zaitun yang pahit namun banyak manfaatnya.

        Jika yang dimaksud adalah tempat, maka konteksnya dengan menambah penafsirannya menjadi bukit atau tempat tumbuhnya kedua buah tersebut. Yaitu di dataran Baitul Maqdis. Gagasan ini seperti disampaikan Syihabuddin al-Alusy dalam tafsirnya.

      • KeduaDan demi bukit Sinai.” (Q.s. 95: 2)
      • Adapun tempat kedua yang dipakai bersumpah adalah bukit Sinai yang terletak di Mesir. Sebagian ulama menafsirannya sebagai bukit tempat Musa menerima wahyu. Menurut Ikrimah, sinîn dalam bahasa Habasyah (Etiophia) berarti baik .

    9. Kota Yang Menjadi Saksi Dimulainya Peristiwa Isra’ Mi’raj
    10. Pernyataan Rasulullah dalam Sebuah Hadis tentang Kekhususan Kota Makkah
    11. “Demi Allah, sesungguhnya engkau dalah sebaik-baik bumi Allah SWT, dan bumi yang paling Allah sayangi. Kalaulah bukan karena dipaksa keluar, maka aku tidak akan meninggalkan engkau”. (HR At Tirmidzi)

    12. Kota yang Didoakan Nabi Ibrahim As, Seperti Termaksud dalam Alquran dan Al-Hadis
    13. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari pada menyembah berhala-berlaha. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barang siapa yang mengikuti, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]:35-37).

    14. Kota yang Damai, Dilarang Berperang dan Membawa Masuk Senjata ke Kota Makkah
    15. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah), dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir”. (QS. Al-Baqarah [2]: 191)

    16. Kota yang Dilindungi Allah dari Kerusakan dan Kepunahan Populasinya
    17. Sebagaimana disabdakan Rasulullah tentang Haramnya berburu saat berihram:

      “Sesungguhnya tanah ini telah di Haram-kan oleh Allah, maka tidak boleh ditebang tumbuhannya, tidak boleh berburu hewan buruannya, dan tidak boleh dipungut satupun barang yang telah hilang padanya, kecuali orang yang mencari pemiliknya.” (HR Bukhari).

      Ketika Allah menundukkan kota Makkah untuk Rasulullah SAW, beliau berdiri di tengah orang-orang, lalu memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya Allah telah melindungi kota Makkah dari pasukan bergajah dan menguasakannya kepada Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan sesungguhnya kota ini tidak halal bagi seorangpun sebelumku, ia hanya dihalalkan bagiku sebentar pada waktu siang, dan tidak dihalalkan bagi seorangpun setelahku. Oleh karena itu, binatang buruan yang ada didalamnya tidak boleh dikejar, duri pohon yang tumbuh didalamnya tidak boleh dipatahkan, benda-benda yang jatuh tidak boleh diambil, kecuali bagi orang yang mengumumkannya; dan barang siapa terbunuh, maka keluarganya boleh memilih yang terbaik antara dua perkara (denda atau qishash).” Lalu Abbas berkata: kecuali tumbuhan idkhir, wahai Rasulullah. Sebab kami menggunakannya di kuburan dan rumah kami. Beliau bersabda: “Kecuali tumbuhan idkhir”. (HR Bukhari)

    18. Bumi Allah yang Paling Allah Sayangi
    19. “Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah sebaik-baik bumi Allah SWT, dan bumi yang paling Allah sayangi. Kalaulah bukan karena dipaksa keluar, maka aku tidak akan meninggalkan engkau.” (HR. Tirmidzi)

Keajaiban Kota Makkah dan Madinah (Part 2)

Untuk Informasi Lebih Lanjut, Hubungi :

PT. Arminareka Perdana Penyelenggara Perjalanan Umrah & Haji Plus terbesar Se-Dunia (Since Februari 1990)

Artikel Terkait: